30 Agu 2011

Menjaring Surga

Pagi yang masih buta dan embun pagi membasahi bumi, menemani langkah tiga bocah kecil setelah berpamitan dengan ibu dan bapaknya. Tak luput sang bapak yang selalu berpesan agar jangan nakal di sekolah, patuh pada guru dan belajar sungguh-sungguh.
Dan sampailah mereka pada tepi pantai. Perlahan namun pasti, ketiganya mulai mendayung mengarungi selat menuju pulau seberang. Memang itulah jalan yang harus mereka tempuh.
Menjelang senja ketiga bocah itu telah sampai kembali di pulau mereka. Ditambatkannya perahu mereka dan bergegas menuju rumah.
Dengan ditemani penerangan cukup, bocah-bocah itupun belajar dengan tekun. Kedua orang tuanya setia menemani.
Suara bapak tiba-tiba memecah kesunyian malam. “Besok bapak mau melaut, kalian di rumah baik-baik dan tetap belajar seperti biasa,” kata bapak dengan suara agak berat.
Nasrul sebagai anak tertua seolah tak bisa menerima perkataan bapaknya. “Tapi Pak, bukankah sekarang lagi musim angin barat. Cuaca sering buruk dan tak menentu. Apakah sebaiknya Bapak mencari ikannya di pantai saja tak usah ke tengah laut,” protesnya.
“Tak apalah, insyaALLAH besok cuaca akan baik-baik saja,” jawab sang bapak dengan senyumnya yang mengembang.
Suatu hari ketiga bersaudara ini tampak murung setelah pulang dari sekolah. Rupanya sebuah surat dari Kepala Sekolah yang membuat mereka demikian. Dengan berat hati mereka harus menyampaikan surat itu pada bapak dan ibunya.
“Pak, ada surat dari Kepala Sekolah’” ujar Nasrul.
Dengan penuh rasa sedih ketiga bocah itu menyimak bapaknya membaca surat itu.
“Bapak mengerti kesedihan kalian. Bapak juga sedih kalau kalian sampai berhenti sekolah,” kata bapak mereka.
Demi anak-anaknya bapak paruh baya itu berjanji akan melaut besok walaupun cuaca sangat tidak bersahabat.
Di tengah hembusan angin malam yang kencang dan rintik hujan yang mulai turun menyambut lelaki itu. Di kejauhan sesekali nampak kilat merayap di awan dan meneranginya dengan sinarnya yang sekejab. Ditariklah perahunya dari tambatan diiringi riuh rendahnya deburan ombak.
Seolah kepergiannya tak tertahan lagi, meski istri dan ketiga anaknya telah meminta agar ia tak melaut. Namun tekad lelaki itu sudah bulat demi ketiga anaknya agar dapat terus bersekolah.

Berhari-hari mencari ikan di laut dengan cuaca yang buruk. Ia dayung terus perahunya dengan susah payah lebih ke tengah laut lagi melawan ombak yang menghempas ke tepian pantai. Ia selalu berdoa agar mendapat hasil ikan yang cukup serta mengharap keselamatan agar bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Kini sudah hari kelima bapak ketiga bocah itu melaut. Istri dan ketiga anaknya setia menunggu dengan kecemasan yang makin menggelayuti perasaan mereka. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu terhadapnya. Waktu terus berlalu, namun lelaki itu tak juga kembali pulang. Anak-anaknya pun kini tak lagi bersekolah.
Kesedihan makin bertambah manakala anak-anaknya yang masih tergolong bocah harus mencari ikan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Mungkinkah mereka memang ditakdirkan menjadi nelayang-nelayan yang ulung?
Ketiganya rela meninggalkan sekolah yang mereka cita-citakan dan memutuskan menggantikan bapaknya sebagai nelayan yang gigih berjuang demi keluarga karena memberikan nafkah adalah ibadah.
Laut sebagai surga menjaring ikan atau menjaring surga di laut?

0 komentar:

Posting Komentar

Kami telah mengaktifkan deteksi spam otomatis untuk komentar. Sebaiknya Anda meninggalkan komentar yang sopan.